Webinar Lintas Generasi (Perubahan Peradaban Dominasi Millenial dan Gereja di masa Pandemi)

Penulis: Basa Hutabarat & Fernando Sihotang

Webinar ini digelar pada masa pandemic dimana pemuda Kristen dan gereja terus bergumul akan peribadahan yang sama sekali lain dari yang biasanya. KN LWF berani menggelar Webinar yang bertajuk Perubahan Peradaban Dominasi Millenial dan Gereja di masa Pandemi, mengingat betapa pentingnya nilai peribadahan di Indonesia. Masyarakat  masih kental dan kencang memegang agama yang dianutnya. Agama merupakan kepercayaan tertinggi apalagi jika sesuatu itu tidak dapat terjawab oleh siapa atau apapun lagi.

Kamis, 14 Mei 2020 Pkl 10.00 – 12.30 Webinar dimulai. Operator: Fernando Sihotang dan Moderator: Pdt Basa Hutabarat memulai dengan lebih dahulu berdoa ala virtual. Peserta lintas generasi ini berjumlah 64 terdaftar dan yang aktif 52 orang terdiri atas 45% perempuan dan 55% laki-laki. Rentang Usia, dominasi > 25 tahun.

Nara Sumber yang telah dipersiapkan yaitu: Pdt Dr Rospita Siahaan; Pdt Dr Deddy Fajar Purba; Debby Manalu (Staff PGI); Rovaldo (aktivis NHKBP Tarutung).

Pandemi Covid-19 ini memperokporandakan kehidupan manusia dan kerja yang telah dimiliki oleh masing-masing orang. Suatu perubahan telah terjadi dimana-mana baik dalam pribadi maupun sosial masyarakat. Baik komunikasi verbal maupun komunikasi bertemu/real.

Persekutuan yang mengharapkan banyak orang, kini dipaksa menjadi persekutuan terbatas dengan jumlah yang sangat minimalis; pekerjaan yang memerlukan  kantor dan fasilitas yang cukup, kini hanya diperkenankan dari rumah (stay@home); perjumpaan dengan Tuhan oleh paguyuban orang beriman yang dimaknai didapatkan dalam gereja, kini dilakukan dari rumah masing-masing; isolasi dan karantina mandiri merupakan hal yang dibenarkan untuk membatasi penularan dan penyebaran penyakit; social distancing adalah suatu pola hidup baru masyarakat yang membuat kenyamanan antara satu dengan lainnya.

Sekitar 50 orang peserta membahas adanya kenormalan-kenormalan baru di lingkungan gereja terkait “kesucian” dari ibadah dilihat dari mediumnya. Kalau sebelumnya masih kuat sentiment yang dibangun kepada pengguna “android suci” di aktivitas persekutuan gereja, sekarang semua orang menjadikan tekhnologi sebagai medium utama dalam membina persekutuan iman sesama jemaat.

Pdt Dr. Rospita

Memulai dengan memaparkan bahwa dimasa Pandemi ini ibadah aktual diganti dengan virtual. Tata Ibadah cetak diganti dengan Tata ibadah On line/live stream. Manakah yang lebih Alkitabiah?

Mengangkat dari zaman Perjanjian Baru dimana umat Yahudi beribadah di Yerusalem sementara umat Samaria beribadah di Gerizim. Manakah yang lebih suci? Yesus meresponse bahwa ibadah bukanlah terletak pada tempat atau geografis tetapi soal penyembahan kepada ALLAH. Menyembah “Proskune” dengan sujud/berlutut kepada Roh dan Kebenaran (Yoh.4: 20-24)

Zaman menuntut perobahan disana-sini, dan ini harus disikapi oleh umat Tuhan yang menyembah itu. Tadinya alat musik tradisional tidak diperbolehkan (hanya pipe organ yang boleh diperdengarkan di gereja), sekarang instrument apa saja diperbolehkan. Dahulu perempuan tidak dapat sebagai pendeta, kini diperbolehkan. Dahulu ibadah alternatif/kontemporer tidak diperbolehkan sekarang ibadah sedemikian menjadi ciri khas pemuda. Bahwa perobahan dalam tata penyembahan itu dapat saja terjadi dikarenakan beberapa alasan misalnya perkembangan pemahaman teologis; perkembangan zaman dan situasi maupun kondisi. Namun perobahan itu tidak mampu merobah yang hakiki atau hakekatnya yaitu Injil – Berita Kesukaan – Kerajaan Allah. Tiap perobahan membawa dampak/akibatnya masing-masing. Negatif atau positip tergantung sipemerguna.  Ibadah fisikal atau Virtual, akan sama saja jika yang disembah adalah ALLAH dari hati yang tulus. Namun Pdt Rospita lebih cenderung memakai ibadah fisikal daripada virtual, sebab ibadah Fisikal (di gereja) lebih terkonsentrasi, persekutuan antar umat lebih terasa dan leluasa dalam berdiakonia.

Pdt Deddy Fajar Purba

Memulai dengan refleksi Covid-19 yang menciptakan tragedi kemanusiaan dimana banyak orang yang menjadi ketakutan/panik. Pada zaman Martin Luther, waah seperti ini sudah pernah terjadi pada tahun 1527 di Wittenberg. Pada saat Professor dan mahasiswa diminta untuk mengungsi, Martin Luther dan beberapa pengikutnya, menolak dan memilih untuk tinggal bersama dengan para korban. Iman/kepercayaan kepada Tuhan tidak hanya dalam kata-kata atau mulut saja, tetapi dilanjutkan pada hati dan tindakan.

Namun bagaimana pendapat generasi muda dengan adanya evolusi teknologi dalam persekutuan iman saat ini? Rovaldo yang sehari-harinya tinggal di desa sebagai petani muda dan aktif dalam pelayanan gereja ini, menyampaikan pergumulan yang dialami para pemuda di pedesaan. Model bersektu live streaming dalam pelayanan gereja, adalah model yang utama saat ini, ungkapnya. Dalam melihat dampak domino covid-19 terhadap kondisi sosial ekonomi penduduk desa, Rovaldo berharap ada kolaborasi yang terbangun antara warga gereja di kota dan desa dalam melahirkan solusi-solusi ekonomi.  Kami mengundang teman-teman pemuda di kota untuk berkolaborasi demi kemanusiaan, terang Rovaldo.

Debby Manalu yang telah 5 tahun tinggal dan bekerja di PGI Jakarta, mengingatkan generasi pemuda di gereja untuk tidak lagi menjadi foloower namun creator yang menghadirkan solusi. Ia mengapresiasi langkah webinar ini sebagai jembatan orang-orang muda yang berasal dari lingkungan dan kondisi sosial-ekonomi berbeda untuk bersatu melawan covid-19 dan dampaknya di masyarakat.

Melihat antusias peserta dan pentingnya elaborasi diskursus lintas generasi, KN LWF akan memfasilitasi kembali Webinar dengan topic yang berbeda dan lebih dikhususnkan kepada Pimpinan dan Pelayan Gereja agar diperoleh pemahaman yang sama mengenai perubahan yang terjadi masa pandemic dan setelah pandemic ini.

Materi untuk untuk Webinar ini dapat di download disini

Martin Luther di tengah Pandemic Covid 19

Millenial Gereja dan Pandemic Covid-19 [Autosaved].ppt

RS-Rev, MENYEMBAH DALAM ROH DAN KEBENARAN, Webinar KNLWF, Mei 2020

 

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.