Webinar KNLWF: Mempertemukan Lintas Generasi Di Jagat Virtual

Teks oleh Fernando Sihotang

 

Pandemi Covid-19 ini memporak porandakan kehidupan manusia dan kerja yang telah dimiliki oleh masing-masing orang. Suatu perubahan terjadi dimana-mana baik dalam diri pribadi maupun sosial masyarakat. Baik komunikasi verbal maupun komunikasi bertemu.  Tak luput juga aktivitas peribadatan gereja berubah dari model konvensional dituntut menjadi lebih flexible. 

Persekutuan yang mengharapkan banyak orang, kini dipaksa menjadi persekutuan terbatas dengan jumlah yang sangat minimalis; pekerjaan yang memerlukan kantor dan fasilitas yang cukup, kini hanya diperkenankan dari rumah; perjumpaan dengan Tuhan oleh paguyuban orang beriman yang dimaknai didapatkan dalam gereja, kini dilakukan dari rumah masing-masing; isolasi dan karantina mandiri merupakan hal yang dibenarkan untuk membatasi penularan penyakit; dan social distancing adalah suatu pola hidup baru masyarakat yang membuat kenyamanan antara satu dengan lainnya. 

Manusia menghindar dari perjumpaan fisik dan lebih mengutamakan pertemuan virtual. Selama ibadah Minggu diharapkan dilaksanakan dari rumah masing-masing, selama itu juga persekutuan keluarga dimaksimalkan. Keberimanan seorang Kristen tidak sekedar ditunjukkan dalam gedung gereja yang sekali seminggu atau dalam persekutuan kategorial lainnya, namun telah dituntut untuk lebih dari itu. Hubungan manusia dengan sesamanya semakin tajam diperlihatkan khususnya terkait dengan kepedulian suatu keberlangsungan kehidupan. 

Perjumpaan fisik tidak dapat dipertahankan di masa pandemi ini, namun telah diganti dengan perjumpaan virtual. Seminar, pelatihan, lokakarya dan lain sebagainya untuk mengedukasi jemaat hanya dapat dilaksanakan dalam bentuk virtual. Evolusi perjumpaan-perjumpaan warga gereja terjadi dari model konvensional ke model yang jauh sangat flexible, oleh karena itu saat ini persekutuan-persekutuan hanya bisa dilakukan secara maksimal melalui media streaming. 

Diskursus inilah yang dikemas oleh KNLWF dengan menghadirkan warga gereja lintas generasi dalam sebuah webinar yang dilaksanakan pada tanggal 14 Mei 2020 lewat aplikasi video Zoom. Webinar ini bertujuan untuk melihat bagaimana penerimaan warga terhadap model persekutuan baru ini. Ada empat pemateri yang hadir mengisi webinar ini, yakni Pdt. Dr. Rospita Siahaan (STT HKBP Pematangsiantar); Pdt. Dr. Deddy Fajar Purba (STT Abdi Sabda Medan); Rovaldo Aritonang (Pegurus NKHBP Distrik Silindung); dan Deby Manalu (Pemuda dan Staff PGI). 

Sekitar 50 orang peserta membahas adanya kenormalan-kenormalan baru di lingkungan gereja terkait “kesucian” dari ibadah dilihat dari mediumnya. Kalau sebelumnya masih kuat sentimen yang dibangun kepada pengguna “Android suci” di aktivitas persekutuan gereja, sekarang semua orang menjadikan teknologi sebagai medium utama dalam membina persekutuan iman sesama jemaat. 

Pdt. Dr. Rospita mengingatkan peserta bahwa perdebatan ini juga sudah ada sejak masa Yesus yang tertulis di Yohanes 4:20-24. Pada satu sisi, orang Yahudi percaya bahwa tempat suci hanyalah di Yerusalem dan orang Samaria meyakini Gunung Gerizim, pada sisi lain. Namun Yesus menjawab, “percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem (ayat 21), (namun) dalam roh dan kebenaran (ayat 23-24).”

Pdt. Dr. Deddy Purba menerangkan kalau pada zaman Martin Luther (1517) pun pandemi seperti hari ini terjadi. “Martin Luther mengajak kolega-kolega dan murid-muridnya untuk tidak takut, dan bahkan harus menolong jemaat yang terpapar. Karena Kristus memberikan kemampuan,” ujar Pdt. Deddy kepada peserta webinar.

Namun bagaimana pendapat generasi muda dengan adanya evolusi teknologi dalam persekutuan iman saat ini? Rovaldo, yang sehari-harinya tinggal di desa dan beraktivitas sebagai petani, menyampaikan pergumulan yang dialami oleh warga gereja, termasuk pemuda, agar dapat tetap bersekutu lewat model live streaming. Dalam melihat dampak domino Covid-19 terhadap kondisi sosial ekonomi penduduk desa, Rovaldo berharap ada kolaborasi yang terbangun antara warga gereja di kota dan di desa dalam melahirkan solusi-solusi sosial ekonomi. “Saat ini kami pemuda gereja di Tarutung menggerakkan potensi orang muda membantu mendistribusikan hasil-hasil pertanian untuk membantu ekonomi para petani dan membantu warga yang membutuhkan produk-produk pertanian. Kami mengundang teman-teman pemuda di kota untuk berkolaborasi untuk kemanusiaan,” terang Rovaldo. 

Deby Manalu mengingatkan generasi pemuda di gereja untuk tidak lagi menjadi follower, tapi creator yang menghadirkan solusi. Ia mengapresiasi langkah webinar ini sebagai jembatan orang-orang muda yang berasal dari lingkungan dan kondisi sosial-ekonomi berbeda untuk bersatu melawan Covid-19 dan dampaknya di masyarakat. 

Melihat antusias peserta dan pentingnya elaborasi diskursus lintas generasi, KNLWF akan memfasilitasi kembali webinar dengan topik yang berbeda. Situasi pandemi saat ini tidak menjadi penghalang bagi warga gereja untuk saling berbagi informasi dan menguatkan satu sama lain.

 

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.