Webinar KNLWF dan 1000 Tenda: Covid-19 dan Gagasan Keadilan Sosial

Dalam Webinar yang pertama, 1000 Tenda menghadirkan beberapa pemateri antara lain, Pdt. Basa Hutabarat dan Fernando Sihotang dari  Perwakilan Komite Nasional Lutheran world Federation (KNLWF), Pritta Damanik dari Relawan Agensi  PBB untuk Perlindungan Anak, dan Tumpak Hutabarat Direktur 1000 Tenda sendiri dengan Emi Paradisa sebagai pemandu diskusi.
Diskusi dibuka dengan penjelasan Pdt. Basa Hutabarat, ia berpandangan pandemi telah membuka mata KNLWF atas orang-orang yang terdiskriminasi, yaitu mereka yang tidak terjamah semasa pandemi. Di masa pandemi banyak komunitas dan organisasi,  baik gereja dan pemerintah yang melakukan donasi. Akan tetapi pengalokasiannya tidak merata. Banyak donasi tidak sampai pada orang yang benar-benar membutuhkan.
Hal yang sama pun disampaikan oleh Fernando, ia berpandangan bahwa banyak akses baik kesehatan dan ekonomi yang tidak memadai yang membuat orang-orang yang rentan menjadi semakin rentan. Misalnya, ojek online dan pedagang kaki lima yang hanya mengandalkan mobilitas publik untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Secara garis besar yang  rentan terdampak pandemi adalah mereka yang pendapatan di bawah rata-rata, dari riset yang telah dilakukan KNLWF terhadap pekerja non sektor yang dilakukan di Pematang Siantar, Simalungun, dan Tapanuli Utara pada profesi pemijit, petani, pedagang, pekerja kreatif, dan pekerja lain sebagainya sangat rentan pada kemiskinan yang menyebabkan mereka menjadi rentan pula terpapar covid-19 karena akses terhadap sanitasi yang terbatas.
Selain itu, kelompok yang juga rentan terhadap dampak pandemi adalah mereka para pekerja imigran dan suaka, kelompok minoritas, dan para pengungsi acap kali mengalami diskriminasi dalam pembagian donasi sembako, bantuan sosial, dan lain sebagainya sebagainya.
Adapun intervensi HAM dalam pencegahan pandemi covid-19, yaitu memastikan respon covid-19 tidak memperdalam kesenjangan dan marjinalisasi,  memastikan negara melakukan kebijakan berkonsentrasi pada kelompok yang rentan, memastikan negara menghasilkan solusi lagitimate, dan transparansi informasi publik.
Perempuan dan anak juga menjadi kelompok yang rentan terhadap dampak pandemi covid-19, hal ini disampaikan Pritta. Dalam masa krisis, perempuan dan anak 14 kali beresiko lebih besar dari pada laki-laki dewasa pada saat terjadi bencana. Dalam hal ini, ketimpangan gender juga sering dialami perempuan. Contohnya pada akses sanitasi dan edukasi, terbatasnya akses anak perempuan untuk mendapat pelajaran teknik pertahanan yang merupakan mitigasi perlindungan diri saat terjadi bencana.
Work from home merupakan solusi terhadap pencegahan penyebaran virus corona. Akan tetapi, hal ini justru menimbulkan masalah  yang lain yaitu, kekerasan. Pada masa pandemi, menurut data Komnas Perempuan terjadi peningkatan kekerasan terhadap perempuan sebanyak 90 persen dengan 199 kasus kekerasan seksual, fisik, dan sikis. Sedangkan peningkatan kasus kekerasan terhadap anak meningkat 70 persen, dalam tiga bulan 340 kasus kekerasan terhadap anak laki-lai dan 274 kasus anak perempuan.
Adapun tantangan perempuan semasa pandemi, yaitu mengalami stres, mengalami kecemasan,  kehilangan pekerjaan,  beban domestik ganda, relasi kuasa tidak setara, berpotensi KDRT, dan akses terhadap layanan yang minim.
Dari sisi anak yaitu, minimnya fasilitas pendidikan yang mendukung protokol kesehatan terhadap covid, tidak adanya solusi terhadap anak yang tidak mendapat mengikuti proses belajar mengajar secara daring, mengalami dampak tak langsung akibat masalah ekonomi dan sosial yang terjadi pada keluarga dan rentan terkena kekerasan, dan perkawinan anak usia dini.
Tumpak  memaparkan masa pandemi telah membuat anak-anak muda kehilangan mata pencaharian, apalagi anak muda yang bekerja di industri kreatif. Untuk bertahan hidup anak muda ini banyak yang menghabiskan uang tabungan, menjual barang, bahkan bergantung pada orang tua.  Mereka tak memiliki modal untuk menciptakan usaha guna bertahan hidup semasa pandemi.
Di lain sisi, banyak juga kelompok anak-anak muda yang melakukan donasi kepada masyarakat sekitar yang terdamapak covid, di Siantar sendiri ada kumpulan pengusaha muda dan kelompok anak muda siantar yang bertato  yang terkenal dengan stigma kriminal. Menciptakan solidaritas dan jaringan yang saling mendukung satu sama lain.
Anak-anak muda juga mempergunakan kemajuan teknologi untuk melakukan donasi, contohnya melakukan streaming pertunjukan dan mengumpulkan donasi dari sana. Hal ini dengan tak langsung juga memunculkan saluran pemasukan kepada pekerja kreatif. tidak hanya senimannya tetapi juga pekerja kreatif meliputi kameramen, desainer grafis, dan lain sebagainya.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.