Project Peningkatan Ekonomi Mentawai

Project Peningkatan Ekonomi Mentawai

Di awal tahun 2019 ini KN-LWF memulai program baru yang tujuan utamanya adalah membangun kemandirian ekonomi masyarakat. Program ini untuk tahap pertama akan berlangsung selama tiga tahun hingga tahun 2021. Program ini berlokasi di Kepulauan mentawai, tepatnya berada di Pulau Siberut desa Saibi Samukop. Seperti yang kita ketahui Kep. Mentawai yang terletak si Sumatera Barat merupakan salah satu pulau yang sudah sejak lama tertinggal secara ekonomi dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Indonesia. Hal ini dikarenakan kurangnya akses komunikasi, listrik maupun transportasi ke daerah tersebut. Bentuk daerahnya yang berupa kepulauan menjadikan tantangan tersendiri untuk membangun sarana transportasi yang memadai untuk perkembangan daerah tersebut. Dibutuhkan investasi yang cukup besar untuk mengejar ketertinggalan dengan daerah yang lain.

Semenjak menjadi kabupaten yang mandiri berdasarkan UU No. 49 Tahun 1999, dimana sebelumnya mentawai masuk dalam wilayah administratif kabupten Padang Pariaman. Kepulauan mentawai mengalami kemajuan yang sangat signifikan. Hal ini karena sebelumnya perhatian di kepulauan mentawai sangat minim. Secara garis besar kepulauan mentawai dihuni oleh suku mentawai yang umumnya berasal dari Pulau Siberut. Mata pencarian utama masyarakat mentawai adalah Pertanian, perkebunan, perikanan dan pariwisata. Dimana perikanan dan pariwisata merupakan potensi utama daerah yang dapat dikembangkan untuk peningkatan ekonomi masyarakat dan pendapatan daerah.

Mayoritas masyarakat mentawai beragama Kristen (Katolik dan Protestan), Islam dan sebagian Animisme. Salah satu gereja terbesar di kepulauan mentawai adalah Gereja Kristen Protestan Mentawai (GKPM) yang berkantor pusat di Nemnemleleu, Sikakap. Program ini akan bekerjasama dengan GKPM dan pada dasarnya sasaran utama  dari program ini adalah jemaat GKPM yang berada di lokasi yang sudah di tentukan yaitu di desa Saibi Samukop. Desa ini terletak di Kecamatan siberut tengah pulau siberut. Akses satu-satunya untuk sampai ke desa ini adalah lewat laut dengan menggunakan motor boat. Belum adanya pelabuhan di daerah ini menyebapkan kapal laut dengan muatan besar belum dapat bersandar yang mengakibatkan penambahan biaya transportasi.

Desai saibi memiliki 6 dusun yaitu Sua, Totoet, Saibi Samukop, Sirisurak, Subelen, Simoilaklak, Toroiji. Mayoritas penduduk desa Saibi adalah petani kebun dan nelayan selain pegawai pemerintahan. Tantangan utama dalam program ini adalah mahalnya transportasi untuk membawa keluar barang dari desa dan pengetahuan akan pertanian yang masih minim. Hal ini mengakibatkan pola pertanian yang masih sangat bergantung dengan kondisi alam. Adapun yang menjadi hasil komoditi utama adalah cengkeh dan pinang. Kedua hasil pertanian ini dijual ke pengumpul lokal di desa. Kemudia pengumpul lokal yang menjual ke Padang via Muara Siberut.

 

 

 

Program pengembangan ekonomi yang akan dilakukan ini berbasis pada komunitas gereja. Sehingga nantinya akan dibentuk kelompok-kelompok pertanian untuk dilatih meningkatkan teknik bertani, pengolahan pasca panen hingga perbaikan pada pemasaran hasil pertanian. Usaha ini nantinya diharapkan mampu memperkuat ketahanan ekonomi rumah tangga kelompok sasaran.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.