Paskah di Tengah Covid-19

Ditulis oleh Pdt. Basa Hutabarat

Pelayanan Ibadah Minggu tidak pernah berhenti. Walau pemerintah menyarankan untuk memutus  mata rantai penyebaran Covid-19 dengan beribadah di rumah saja, persekutuan umat merasakan ada sesuatu yang kehilangan dalam dirinya ketika Ibadah Minggu dilakukan di rumah. Jumat agung dan Paskah adalah salah satu Perayaan Peringatan Gerejawi yang terbesar.

Persekutuan Umat yang berpuluh-puluh tahun beribadah kepada Elohim – Juruselamat Dunia, tidak dapat dihentikan begitu saja. Umat menangisi keadaan. Umat mengerang memohon pengampunan dari Tuhan. Umat berteriak menaikkan doa-doanya.

Pemutusan mata rantai penyebaran harus dilakukan demi kepentingan dunia. Ruang Ibadah semakin dipersempit. Oleh beberapa gereja di daerah pedesaan, hikmat Tuhan diandalkan. Umat beribadah dengan jarak 1 meter satu dengan yang lainnya. Jika sebelum masa Covid-1, ratusan jemaat tiap minggu datang ke gereja kini hanya 5 – 10 orang.

KOSONG…. KOSONG. KUBUR KOSONG!!

Iman dan harapan penuh keyakinan. Pelayan bergerak dari lingkungan ke lingkungan untuk menyampaikan Kebangkitan-Nya. Umat beribadah dari jendela atau teras rumah.  Lonceng gereja berdentang seakan menyuarakan: “hai Covid…..enyahlah!! Jangan sentuh iman umatKU.”

Sebagian pelayan melayankan ibadah Jumat Agung dan Paskah dari kejauhan dengan microphone yang kuat agar umat lainnya dapat mendengarkan. Bak….pelayanan Yesus kepada perempuan Samaria di Sumur Yakub di Sikhar.

Kubur kosong tanda ibadah melampaui ruang dan waktu. Penyembahan umat melampaui ruang dan waktu karena  menyembah Allah yang benar adalah menyembah dalam Roh dan Kebenaran.

Jika pelayanan di gereja membatasi hanya kepada umat yang mendengar, pelayanan di luar gereja membuka ruang Berita Paskah bagi umat dan alam raya.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.