Majalah SAMA Edisi Juni 2020

Silahkan akses versi PDF dengan mengklik gambar sampul (Cover)

Shalom,

Salam damai sejahtera untuk kita semua.
Apa kabar para pembaca SAMA? Sebuah kebanggaan bagi kami bisa ber- temu kembali dengan para pembaca sekalian. Doa dan harapan kami, se- moga segala kebaikan selalu menjadi bagian kita.

Setelah tiga bulan membatasi ruang gerak dan pergaulan sosial dengan berdi- am di rumah, bulan ini, pemerintah sudah mencabut aturan terhadap keharusan di rumah saja. Berbagai aktivitas sosial, ekonomi, dan budaya, satu-persatu mulai diperbolehkan secara bertahap. Rutinitas kembali bergerak, orang-orang semakin sibuk, dan jalanan mulai ramai lagi. Semua aktivitas berjalan di bawah protokol kes- ehatan dan peraturan-peraturan baru untuk “berdamai” dengan Covid-19. Dimulai- nya semua aktivitas ini disebut sebagai new normal atau kenormalan baru, sebuah skenario untuk mempercepat penanganan Covid-19 dalam aspek kesehatan dan sosial-ekonomi.

Perbincangan mengenai pendapat dan kesiapan memasuki kenormalan baru ini menjadi topik yang kami bahas di dalam rubrik QnA, sebuah rubrik baru tentang tanggapan beberapa orang sebagai perwakilan masyarakat terhadap isu yang se- dang ramai dibicarakan.

Di rubrik utama, rubrik Sorotan, kami mengangkat masih seputar Covid-19 dan ber- bagai bentuk solidaritas yang masih digalang oleh banyak pihak. Ada liputan ten- tang “tali kasih” terhadap para lansia dan pensiunan para pelayan di gereja Huria Kristen Indonesia (HKI). Masih di rubrik Sorotan, kami juga meliput tentang upaya departemen Koinonia HKI dalam peningkatan kapasitas guru sekolah minggu den- gan memberikan pendidikan dan pelatihan panggung boneka.

Di rubrik Sosok, kami mengangkat seorang perempuan yang sangat menginspirasi, Butet Manurung. Antropolog yang banyak berbicara tentang masyarakat adat ini menceritakan bagaimana kita seharusnya belajar dari masyarakat adat, pemegang kunci pengetahuan kekayaan biodiversity. Peristiwa pandemi yang selama seten- gah tahun ini memporak-porandakan dunia seharusnya membuka mata kita tentang bagaimana seharusnya kita memperlakukan alam.

Pembahasan tentang Covid-19 masih belum akan selesai. Di bulan ini, isu tentang persamaan hak yang tidak membeda-bedakan suku bangsa, ras, dan identitas so- sial lainnya santer dibahas dan memicu berbagai respon dari seluruh dunia. Gere- japun dianggap harus ambil bagian dan bertanggung jawab memberi pesan kepa- da seluruh jemaat. Gereja sebagai perwujudan kasih Kristus harus menjadi rumah bagi setiap orang tanpa membeda-bedakan. Apa yang dilakukan salah satu gereja Lutheran di Minneapolis, Holy Trinity, tidak jauh dari peristiwa tragis terbunuhnya George Floyd, yang menjadikan gereja sebagai tempat berbagi bagi mereka yang tidak makan, terlantar dan sakit, serta orang-orang yang butuh perlindungan, kami angkat untuk mengingatkan kita tentang peran gereja. Liputan tentang peristiwa ini kami hadirkan dalam rubrik Cerita Foto.

Di edisi ini, kami menghadirkan rubrik baru lainnya, rubrik Sastra dan Budaya untuk memberikan ruang apresiasi bagi para penulis mempublikasikan karya cerita pen- dek (cerpen)nya. Kami mengharapkan antusias dari pembaca untuk menjadikan rubrik ini sebagai muara publikasi bagi karya-karya sastranya. Masih di rubrik Sas- tra dan Budaya, selain cerpen, artikel menarik tentang kebudayaan akan mengisi majalah SAMA. Pada edisi ini, sebuah tulisan tentang alat musik pukul (perkusi) tradisional Nias menjadi topik menarik yang akan memperkaya pengetahuan dan kecintaan kita terhadap tradisi.

Selamat membaca majalah SAMA edisi Juni 2020. Bersama-sama kita terus mela- kukan pembaharuan iman dan rasa kemanusiaan kita. Semper reformanda.

Tuhan memberkati, Redaksi SAMA

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.