fbpx

Konsultasi Pendeta Perempuan

Banda Aceh

20-22  January 2020

konsultasi yang berlangsung selama 3 hari ini bukan hanya di hadiri pendeta gereja-gereja anggota KN-LWF juga kedatangan tamu istimewa Rev. Prasuna Nelavala dari Gurukul Theological College Chennai India dan juga Aktivis perempuan di Banda Aceh yakni IBu Ruwaida Dan Desi yang turut menjadi Narasumber pada kegiataan ini karna kegiataan konsultasi ini bertema Pendidikan sebagai elemen pendukung kepemimpinan perempuan.

Bergerak dari berbagai pengalaman kepemimpinan perempuan, didapati tantangan eksternal maupun internal. Tantangan yang banyak menyita waktu dan pikiran adalah keluarga. Dukungan suami dan anak dalam menjalani kepemimpinan seorang perempuan pemimpin sangatlah diperlukan. Indonesia masih terbiasa dengan pemimpin laki-laki sehingga banyak orang yang meremehkan suami dari perempuan pemimpin. Tantangan eksternal adalah wawasan yang kurang luas dan diplomasi bahasa yang kurang mampuni, sehingga sering kepemimpinan perempuan terbawa perasaan/emosi. Hal ini dapat mempengaruhi sikap dan tindakan seorang pemimpin.

Gereja telah sangat terbuka dengan kehadiran Pendeta Perempuan. Pendeta adalah seorang pemimpin dalam jemaatnya. Keterbukaan dan penerimaan gereja adalah sinyal bahwa gereja tidak membeda-bedakan gender. Galatia 3:27 adalah salah satu ayat dukungan dimana perempuan dan laki-laki adalah sama dihadapan Tuhan. Walaupun demikian, gereja yang terbiasa dengan sistem patriarkhat ini tetap saja belum dapat sepenuhnya keluar dari zona yang “mengabaikan”perempuan. Karena itu WCC (World Council of Churches) dan LWF ( Lutheran World Federation) sejak tahun 1970an telah mengumandangkan women’s decade. Kemudian gereja-gereja anggotanya menerima perempuan sebagai pendeta (baca pemimpin). Bahkan 15 tahun terakhir ini baik WCC maupun LWF membuat suatu kebijakan yang disebut kebijakan Keadilan Jender (Gender Justice Policy) agar setiap gereja anggotanya mengingat akan kehadiran perempuan sebesar 40% dalam setiap kegiatan/aktivitas maupun pengambilan keputusan.

3 pemikiran pada “Konsultasi Pendeta Perempuan”

  1. Sebenarnya sistem patriarki tidak memperbolehkan perempuan sebagai pemimpin gereja itu wajar, dan itu Alkitabiah.

    Baca 1 Korintus 14 : 26-40, disitu tertera dengan judul “Peraturan dalam pertemuan jemaat” , terutama pada 1 Korintus 14 : 34-35, disitu tertera cara hidup jemaat Kristen Perdana yang dimana perempuan tidak diperbolehkan berbicara dalam pertemuan jemaat (misalnya Ibadah Minggu).

    Lebih bisa perempuan itu sebagai biarawan dalam bertugas penginjilan, atau dengan sebagai evangelis namun bukan dalam jemaat yg sudah percaya, sebagai martir maupun berdiakonia. Bukan malah menjadi pemimpin gereja, karena itu saja sudah bertentangan dengan tradisi gereja mula-mula.

    Dan yang dimaksud dalam Galatia 3 : 27 itu adalah konsepnya itu Paulus menceritakan semua setara sebagai jemaat Kristus, tidak ada lagi orang Yahudi maupun Yunan maupun sebagainya.

    Jadi jika disambungkan Galatia 3 : 27 dengan 1 Korintus 14 : 34-35 itu adalah perempuan juga sama dalam Kristen walaupun bukan sebagai pemimpin, layaknya Presiden adalah sama dengan rakyatnya.

    Jadi sekiranya perempuan punya kok tugas dalam gereja, hanya saja tugas penatua di gereja” kita ini gak serius dlm permasalahannya, andai saja ada jabatan” yg berbeda dan lebih bervariatif dalam gereja, tidak hanya Penatua dan Pendeta, seperti yang dijelaskan dalam surat Paulus di Korintus itu.

    Balas
  2. Shalom, Tuhan Yesus memberkati kita,

    Memang betul perempuan bisa menjadi pelayan Karena untuk menyebarkan Injil itu tidak memandang siapapun orangnya dan juga Allah tidak memandang bulu tidak membantah siapapun itu untuk mewartakan kabar baik.

    Tetapi ?engapa perempuan harus menjadi pendeta/pastor sedangkan kita punya biblevrouw, Biblevrouw sendiri ini sangat minim kenapa perempuan tidak memilih itu, dan malah memilih sebagai pendeta yang melayani pelayanan altar?

    Dalam melayani altar, ada istilah “In Persona Christi”, yang di mana itu artinya perwakilan wujud Yesus Kristus dalam diri Pastor atau pendeta, Yesus Kristus itu sendiri lahir ke dunia sebagai laki-laki, dan manusia pertama kali diciptakan yaitu Adam (laki-laki), sedangkan perempuan diciptakan dari tulang rusuk Adam.

    Dan menurut 1 Korintus 11 : 7-8,
    Laki-laki menyinarkan gambaran dan kemuliaan Allah, tetapi perempuan menyinarkan kemuliaan laki-laki.
    Jadi sudah jelas bahwa “In Persona Christi” harus dilakukan oleh laki-laki, memang ini akan sakit untuk di ketahui oleh perempuan” yang ingin menjadi pelayan altar tetapi memang seperti inilah kata Alkitab dan kita tidak boleh melenceng dari ajaran Alkitab seperti Martin Luther sendiri saja tidak mengizinkan tradisi di luar Alkitab Bagaimana kita bisa bilang gereja Lutheran, kalau kita tidak mengikuti aturan Luther??

    Ditambah lagi ada usaha ingin mempersatukan gereja Katolik-Ortodoks-Lutheran, Katolik dan Ortodoks sudah sepakat bahwa Pastor atau tidak bisa wanita dan juga beberapa gereja Lutheran juga tidak mengizinkan wanita ditahbiskan.

    Bagaimana kita bertiga (Katholik-Lutheran-Orthodox) bisa menjadi satu kalau dari masalah ini kita (anggota gereja Lutheran se-Dunia) tidak bisa menjadi satu?Seharusnya kita mengalah, karena memang sistem Patriarki itu Alkitabiah untuk tidak menahbiskan perempuan, sehingga kita bisa bersatu Katolik-Ortodoks-Lutheran.

    Semoga hanya karena 1 masalah ini tidak menghambat persatuan gereja se-Dunia.

    Terimakasih, Tuhan Yesus beserta dan memberkati kita.

    Balas

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.