KN-LWF Indonesia Laksanakan Retreat Lingkungan Hidup Pemuda GKPS Distrik III

KN-LWF Indonesia Laksanakan Retreat Lingkungan Hidup Pemuda GKPS Distrik III

KN-LWF Indonesia Laksanakan Retreat Lingkungan Hidup Pemuda GKPS Distrik III
KN-LWF Indonesia Laksanakan Retreat Lingkungan Hidup Pemuda GKPS Distrik III

Pematangsiantar (SIB) -Komite Nasional Lutheran World Federation (KN LWF) Indonesia melaksanakan Retreat Lingkungan Hidup bagi pemuda GKPS Distrik III di GKPS Resort Gajapokki Kecamatan Purba Kabupaten Simalungun, Sabtu (15/10) hingga Minggu (17/10) dihadiri utusan resort dan jemaat GKPS Distrik III sebanyak 70 peserta.

Koordinator Diakonia KN LWF Indonesia Janri Damanik kepada SIB, Senin (17/10) mengungkapkan retreat dibuka Pdt Basa Hutabarat selaku Sekretaris Eksekutif KN LWF yang menekankan pemuda tidak diperhamba oleh sesuatu apapun, apalagi jika dikaitkan dengan masalah-masalah yang saat ini dihadapi oleh pemuda.

Lingkungan hidup tidak bisa dipisahkan dari kehidupan pemuda dan gereja, oleh karenanya sudah sepatutnya pemuda turut ambil bagian dalam pelestarian lingkungan. “Kita tahu bahwa dari desa kita seringkali lewat truk membawa kayu dari kawasan hutan, kita pemuda harus turut serta menghentikan pengrusakan tersebut,” tegasnya.

Pdt Edi Antoni Tondang pada sessinya menekankan bahwa dalam perspektif eco-theology sangat tegas dikatakan gereja harus bertanggungjawab akan kehancuran hutan. Ini lebih tegas tertulis pada Kejadian 1 : 26 dimana Manusia sebagai ciptaan terakhir harus bertanggungjawab memelihara dan menjaga kelestarian lingkungan hidup, membiarkan kehancuran oleh pihak-pihak yang tamak akan uang harus menjadi musuh gereja. Jangan kita mengorbankan masa depan pemuda gereja oleh nafsu orang dewasa.

Sementara itu Praeses Distrik III Pdt Jonesman Saragih sebagai pengkotbah pada acara kebaktian minggu di GKPS Gajapokki menekankan suara kenabian harus menjadi bagian hidup.

Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda GKPS, Agri Soehandoko SE memberikan materi leadership kepada pemuda. Dalam bahasa Simalungun dikatakan “Panginsolat do hita bani dunia on” dalam arti kita hanyalah penumpang di dunia ini. Sebagai penumpang kita harus memiliki kesadaran akan tempat yang kita tumpangi bahwa semua itu bukanlah milik kita ataupun untuk kita. Seringkali kita kurang memahami hakekat ini khususnya pemuda dan karena itu pula kita dengan mudahnya merusak hutan untuk kepentingan pribadi maupun golongan oleh karena siopat suhi yaitu uang. Sebagai pemuda gereja kita harus berani menyuarakan sebagai sebagai wujud kepedulian kita akan masa depan bumi.

Mencermati fenomena konversi kawasan hutan untuk perkebunan kelapa sawit, DR. Jef Rudianto Saragih dosen Fakultas Pertanian USI menekankan bahwa dunia saat ini sangat resah dengan ekspansi perkebunan kelapa sawit yang dinilai menjadi penyebab perubahan iklim. Kekeringan yang melanda kawasan Simalungun atas selama kurang lebih 6 bulan mengakibatkan kehidupan masyarakat khususnya petani menderita. Kelapa sawit adalah jenis tumbuhan yang sangat rakus air tetapi tidak bisa menyerap air. “Oleh karena itu di daerah-daerah yang perkebunan kelapa sawit, tingkat erosi dan kecepatan arus air permukaan musim hutan sangat tinggi. Langkah mitigasi revolusioner harus kita lakukan,” tegasnya.

Diakhir acara retreat lingkungan, pemuda melakukan penanaman pohon mahoni di bekas hutan yang sudah gundul dan berdoa bagi kelestarian hutan. Wilayah tersebut adalah wilayah perbukitan dengan tingkat kemiringan 80 derajat. Janri Damanik, koordinator Diakonia KN LWF Indonesia yang menggagas acara berharap lewat acara ini, pemuda GKPS bangkit melestarikan lingkungan hidup khususnya hutan yang ada di kawasan Simalungun. “Mengapa pemuda menjadi entri point kita, karena pemuda kita percayai masih memiliki nilai-nilai kebenaran, ketulusan, cinta kasih dan semangat yang tinggi untuk menjaga keutuhan ciptaan,” katanya. (C03/q)

Source: http://hariansib.co/mobile/?open=content&id=136998

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.