Informasi

Pembangunan Luther Study Centre (LSC)

Komite Nasional Lutheran World Federation (KNLWF) memperluas pelayanannya dengan membuka satu bidang lagi yaitu Luther Study Centre. Bidang ini diharapkan menjadi pusat pembelajaran dan kajian teologia Luther yang terus-menerus dipelajari dan dikembangkan sesuai dengan perkembangan dan kondisi zaman saat ini, meskipun tentu saja teologi tetap relevan sampai kapanpun sebab teologia adalah ilmu mengenai Firman Tuhan.

Sambil menjalankan programnya, bidang ini mendirikan satu bangunan di tanah STT (Sekolah Tinggi Teologia) HKBP, yang merupakan kesepakatan para pemimpin STT  gereja-gereja yang berada di bawah payung KNLWF. Pemilihan ini mempertimbangkan keberadaan STT lainnya yang ada di Nias, Medan, Sihabonghabong, dan Mentawai. Infrastruktur jalan tol yang telah mumpuni dari Medan ke Tebing Tinggi juga menjadi alasan dipilihnya STT HKBP, di samping STT HKBP adalah sekolah teologia tertua dari antara semuanya.

Di atas tanah seluas 300 m2 ini difasilitasi perpustakaan mini dengan koleksi buku-buku bertema Luther atau Lutheran. Gagasan membentuk bidang dan membangun perpustakaan ini lahir dari banyaknya mahasiswa bahkan pelayan gereja bertanya tentang Teologia Luther  yang menjadi landasan nilai bagi persekutuan gereja-gereja di bawah payung KNLWF. KNLWF sebagai lembaga persekutuan 13 gereja berlatar belakang Lutheran tidak bisa menjawab permasalahan ini sendirian. Itulah sebabnya, dengan bantuan donor, dibentuklah bidang baru yang akan fokus kepada perpustakaan dan kajian teologi Luther. “Kita akan bersama-sama  mendesain Luther Study Centre ini semenarik mungkin, sehingga warga jemaat atau siapa saja yang datang ke gedung ini akan merasakan nuansa Lutheran,” kata Pdt. Dedi Pardosi, Koordinator Bidang LSC.

Menurut Pdt. Dedi Pardosi, baru-baru ini LSC menyelesaikan Kursus Teologi Luther secara daring berdurasi 10 x 90 menit kepada 50 mahasiswa dan pelayan gereja. Lima teolog menampilkan ulasan mengenai Teologi Luther dan aplikasinya di zaman super sekarang. Topik yang disampaikan adalah 1) Teologi Salib; 2) Law and Gospel; 3) Lima Sola; 4) Baptisan dan Perjamuan Kudus; 5) Justification by Faith.

Transformasi pengetahuan ini akan diteruskan kepada guru-guru agama sekolah-sekolah gereja Lutheran. “Guru-guru agama kita harus mempunyai pemahaman tentang teologia Luther karena gereja kita menganut doktrin atau paham Luther itu sendiri. Kurang lengkap jika mereka tidak mengetahui apa itu teologia Luther,” kata Pdt. Dedi Pardosi.

Pada bulan Februari dan Maret lalu, Prof. Graham Harm dari Adelaide Australia mengunjungi KNLWF untuk mempersiapkan berbagai program LSC. Dalam kunjungan ke berbagai daerah seperti Nias (Gunung Sitoli dan Mandrehe) dan Tapanuli Utara, ia sungguh antusias akan perkembangan LSC di daerah Sumatera. Bukan sekadar doktrin Luther yang berkembang, namun misi utama kekristenan, yaitu kehadiran Yesus Kristus sebagai Juruselamat manusia, itulah yang menjadi makna prioritas kehadiran LSC. “Injil harus diberitakan kepada seluruh dunia,” begitu kata professor yang gigih ini, yang sempat tinggal selama 3 bulan di Pematang Siantar.

Tujuan didirikannya LSC ini akan tercapai bila manfaatnya dapat dirasakan oleh warga jemaat maupun pelayan gereja. “LSC adalah milik gereja-gereja Lutheran. Silahkan datang, manfaatkan semaksimal mungkin, dan nikmati nuansa Lutheran di sana. Kiranya iman kepada Kristus semakin bertumbuh dan berbuah banyak” kata Pdt. Dedi Pardosi.

Dokumentasi