Cerita dari Kepulauan Mentawai

“Dengan medan yang berat dan dipisahkan oleh lautan samudera, perjalanan dari satu desa ke desa yang lain harus ditempuh dengan perahu (boat), atau, dalam bahasa lokal disebut pompom,” ujar Pdt. Basa yang tidak kapok kapok untuk terus melakukan perjalanan ke sana.

Sejak Februari 2019, KN LWF mendampingi Gereja Kristen Protestan Mentawai (GKPM) dalam pembangunan kapasitas dan pemberdayaan sumber daya manusia. Bersama dengan  Pimpinan GKPM, KN LWF menyepakati mendampingi jemaat di 4 gereja, yaitu di desa Saibi, Toroji, Simoilaklak, Sirisurak. Departemen Pemberdayaan Ekonomi Mentawai dikoordinir oleh Melki Naibaho mendampingi warga jemaat tersebut guna mencapai tujuan yang dimaksud.

Komitmen adalah kata kunci dalam pembangunan dan pemberdayaan sumber daya.  Keinginan untuk maju menapaki masa depan  menjadi modal memotivasi warga desa. Lahan yang tersedia dan iklim yang stabil menjadi kekuatan bagi desa ini untuk memajukan warga desa. Produk alam yang sudah ada sebelumnya, seperti pinang, kakao (coklat), cengkeh, kelapa, talas dan ketela (ubi), merupakan kekayaan yang seharusnya dapat meningkatkan perekonomian warga.

Namun yang menjadi tantangan adalah jarak tempuh antar desa mempersulit mobilitas warga dan logistik. Pdt. Basa Hutabarat mengisahkan tantangan sulit yang dihadapi ketika melakukan beberapa kali perjalanan ke desa tersebut. “Dengan medan yang berat dan dipisahkan oleh lautan samudera, perjalanan dari satu desa ke desa yang lain harus ditempuh dengan perahu (boat), atau, dalam bahasa lokal disebut pompom,” ujar Pdt. Basa yang tidak mau kapok untuk terus melakukan perjalanan ke sana.  Belum lagi jika ingin bepergian ke ibukota kabupaten Mentawai, Tuapejat di pulau Sipora, dan ibukota propinsi Sumatera Barat, Padang. Butuh waktu 12 hingga 14 jam untuk menempuh perjalanan ke kedua lokasi tersebut, dan tingginya biaya yang tidak dapat dijangkau oleh sebagian besar masyarakat desa. Akses komunikasi seluler dan internet jaringan rendah pun hanya dapat ditemukan di spot-spot tertentu, misalnya di lokasi sekolah SMP dan SMA.

Komitmen yang telah terasah inilah yang menjadi modal sebagian warga desa Saibi dan dusun dampingannya untuk memulai pertanian dan peternakan.  Ternak babi yang dimulai dari 20 ekor kini telah mencapai 45 ekor.

Di desa Toroji telah dimulai pertanian palawija seperti pembudidayaan tanaman seperti cabai, tomat, sayur-sayuran dan sebagainya. Sistem yang dikembangkan di desa ini adalah dengan pendekatan berbasis kelompok dan koperasi. Dengan sistem ini, warga memiliki rasa kepemilikan dan tanggungjawab dalam pertanian maupun peternakannya masing-masing. Kita berharap program pemberdayaan ekonomi warga desa di Mentawai mampu mengangkat standar hidup mereka. KNLWF mendorong segenap komunitas dan individu untuk melakukan kegiatan-kegiatan sosial dan bantuan nyata bagi pembangunan masyarakat di Kepulauan Mentawai.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.